Tak Hanya Pemandu Wisata, AI Kini Jadi ‘Sutradara’ di Balik Layar Pariwisata Indonesia
PENDAHULUAN
Ketika kita berbicara tentang pariwisata, yang terbayang mungkin adalah pemandu wisata yang ramah atau agen perjalanan yang sibuk mengatur jadwal. Namun, di balik layar, sebuah revolusi senyap sedang terjadi. Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), dikabarkan mulai mengadopsi teknologi Artificial Intelligence (AI) untuk merancang strategi pariwisata yang lebih cerdas dan personal.
ISI BERITA
Baru-baru ini, Kemenparekraf mengumumkan inisiatif pemanfaatan big data dan AI untuk menganalisis perilaku wisatawan. Tujuannya sederhana namun kuat: memahami apa yang sebenarnya diinginkan oleh turis, baik domestik maupun mancanegara, dan memberikan pengalaman yang tak terlupakan.
Bagaimana Cara Kerjanya?
Teknologi AI ini bekerja dengan mengumpulkan dan menganalisis jutaan data dari berbagai sumber, seperti:
Media Sosial: AI melacak tren destinasi yang sedang ramai dibicarakan, sentimen positif atau negatif terhadap suatu lokasi, hingga jenis aktivitas yang paling sering diunggah oleh wisatawan.
Data Transaksi Online: Pola pemesanan tiket pesawat, hotel, dan atraksi wisata dianalisis untuk memahami dari mana asal wisatawan, berapa lama mereka tinggal, dan berapa banyak yang mereka habiskan.
Ulasan di Platform Perjalanan: AI menyaring ribuan ulasan di situs seperti TripAdvisor atau Google Maps untuk menemukan kelebihan dan kekurangan suatu destinasi secara cepat, mulai dari kebersihan toilet hingga kualitas layanan.
Data-data ini kemudian diolah untuk menghasilkan wawasan yang konkret. Misalnya, AI dapat menemukan bahwa turis dari Eropa cenderung lebih menyukai wisata alam dan budaya yang otentik, sementara turis dari negara tetangga lebih tertarik pada wisata belanja dan kuliner.
Dampak Nyata di Lapangan
Dengan wawasan ini, pemerintah dan pelaku usaha dapat:
Membuat Promosi yang Tepat Sasaran: Iklan pariwisata tidak lagi “menembak secara acak”, melainkan ditargetkan kepada calon wisatawan yang paling potensial.
Mengembangkan Produk Wisata Baru: Jika data menunjukkan adanya minat tinggi pada wisata sepeda di pedesaan, pemerintah daerah bisa didorong untuk membangun jalur sepeda yang aman dan menarik.
Meningkatkan Kualitas Layanan: Keluhan yang sering muncul dari ulasan online bisa segera diidentifikasi dan diperbaiki.
PENUTUP
Langkah ini menunjukkan bahwa AI bukan lagi sekadar jargon teknologi, melainkan alat strategis yang dapat memberikan dampak ekonomi nyata. Dengan menjadi ‘sutradara’ yang cerdas di balik layar, AI membantu Indonesia tidak hanya untuk menjual keindahan alamnya, tetapi juga untuk merancang pengalaman wisata yang benar-benar sesuai dengan keinginan pengunjung.




